Menimbang Pencapresan Jokowi

Jokowi adalah tokoh yang cukup fenomenal. Setelah membuat kejutan menjadi pemenang Pemilukada DKI, sekarang jokowi resmi menjadi capres dari PDI-P. 

Artikel ini akan membahas berbagai sisi dari pencapresan jokowi, sehingga bagi pemilih atau calon pemilih jokowi bisa menimbang menimbang apakah jokowi pantas menjadi seorang presiden? pertanyaan lain adalah apakah jokowi populer karena kinerjanya atau karena pemberitaan media yang bertubi tubi sampai sampai di ibaratkan jokowi kentut saja di beritakan. 

Janji,Konsistensi dan Komitmen.
Jokowi diawal jabatannya bilang bahwa dirinya akan terus komitmen menjadi gubernur jakarta tanpa memikirkan jadi capres atau berambisi menjadi capres. Video, berita TV, kutipan artikel koran sudah ada ratusan kali jokowi menyatakan komitmennya bahwa dirinya akan tetap komitmen menjadi gubernur jakarta. Tapi apa mau dikata, ketika  mega menunjuknya sebagai capres, jokowi mirip abdi dalem keraton, "pejah gesang nderek sultan", "Pejah gesang manut  mega". 

dicalonkannya jokowi juga menimbulkan polemik berkepanjangan, mulai dari gerinda yang mempertanyakan dan menagih janji Megawati bahwa dulu ditahun 2009, megawati bejanji akan mendukung Prabowo menjadi capres, ternyata justru menunjuk jokowi menjadi capres. Koalisi Jokowi-Ahok bukannya merekatkan gerinda-pdi, tapi justru ini adalah titik awal perpecahan gerindra PDI-P. 

Disisi lain, baik megawati dan jokowi perlu berkaca, apakah mereka adalah orang yang amanah dan tepat janji ? jika janji menjadi gubernur 5 tahun saja diabaikan, bagaimana klo jadi presiden nanti? apakah nantinya ketika jadi presiden, jokowi mampu menepat janjinya? Mengutip ucapan teman difacebook sambil bercanda, jangan jangan baru 1 tahun menjabat presiden, terus mundur jadi presiden karena di jadikan Sekjen PBB? 

Jokowi tokoh penurut atau boneka?
Jokowi terkenal sebagai orang yang penurut, terutama pada Pimpinanya megawati, Hal ini jelas dari berbagai tindakannya yang seakan akan 100% mengikuti perintah mega. Contoh sederhana adalah jokowi mbolos ngantor karena diajak megawati berziarah ke makam sukarno. Jika jokowi seorang yang punya komitmen dalam bekerja, tentunya dia akan bilang, tidak bisa menemani bu megawati atau menyarakankan ziarahnya ditunda hari sabtu atau minggu. Tapi apa yang terjadi? jokowi manut saja ikut ziarah? Sekarang dipikir coba? Dia seorang pemimpin atau pengikut?

Efek samping dari penurut ini jauh sekali, jika jokowi tetap seperti ini, dia akan menjadi  Boneka  mega, kenapa?karena apapun ucapan ketua partai PDI akan terus dituruti, jelas ini berbahaya jika jokowi menjadi presiden. Ibaratnya, jokowi itu wayang dan megawati adalah dalang. 

Yang lebih berbahaya, bagaimana kalo yang mempengaruhi megawati adalah pihak asing? wah bisa bisa negara disetir asing tanpa disadari. Yang lebih aneh adalah sikap megawati yang menganggap kadernya yang berhasil jadi kepala daerah harus tetap manut dia. Lah ini aneh, namanya kepala daerah itu manut presiden, jadi jangan heran jika kepala daerah dari PDI-P cenderung menentang kebijakan pemerintah. Contohnya walikota solo FX hady rudyatmo justru ikut demo kepada pemerintah saat pemerintah membuat kebijakan menaikan harga BBM? aneh banget bukan? klo seorang walikota mbalelo kepada presiden, lah dia walikota atasannya siapa? megawati? jelas bukan. Seorang pemimpin daerah itu sudah tidak terikat partai,terutama kebijakannya. 


Dibesarkan Media
Ada yang tidak wajar  dengan fenomena jokowi, sejak muncul diberita tentang perseteruan Bibit Waluyo dan Jokowi , lalu berlanjut dengan mobil ESEMKA yang sekarang ga tau kemana kelanjutannya, terus menjadi Gubernur DKI mengalahkan FOKE sampai sekarang menjadi capres, Media meliputnya sampai pekara kentut saja diliput (satire). Seakan akan, dari semua kepala daerah, hanya jokowi yang kerja (plus risma walikota surabaya). Bupati dan gubernur lain seakan akan cuma ungkang ungkang di kantor. Padahal setiap kepala daerah juga punya kebijakan, rencana kerja dan pembangunan didaerahnya, namun kenapa tidak diliput? seakan akan media sepakat 'AYO lipu terus jokowi, termasuk blusukannya'. Nah ada dua kemungkinan, Media hanya ngikuti pasar karena masyarakat suka jokowi atau media dikontrol oleh "magical hand" yang mengontrol pemberitaan jokowi.  


Saya tidak tahu masalah ini, namun yang jelas, prestasi jokowi menjadi gubernur jakarta belum memuaskan, bahkan diawal tahun 2013 dan tahun 2014 ini saja jakarta banjir bandang juga. Ditahun 2013 jokowi bilang:" Ya namanya baru tahun pertama, maklum kalo mengatasi banjir belum tuntas, nah diahun ini ketika banjir terus melanda apa jawabannya? emang gampang mikir jakarta? minimal jangan menyalahkan pendahulunya yang seakan akan tidak kerja dong?


Yang lebih disayangkan lagi adalah masyarakat indonesia yang serba latah. Segala berita apapun, termasuk berita jokowi dan berita yang menggemparkan, secara sekejam akan beredar di media sosial, BBM broadcast dan sebagainya. Apakah kita tidak sempet mengkroscek kebenarannya? tidak setiap yang dibaca itu fakta. Belajarlah menyaring berita dan berpikir dulu sebelum menyebar berita, jangan cuma jadi bebek.

Sudut Pandang Islam 
Sebagai negara muslim terbesar didunia, pencapresan jokowi punya sisi negatif dan positif bagi umat islam di indonesia. Kita lihat dulu sisi positifnya: Sisi positifnya adalah Indonesia Akan tetap dipimpin oleh Pemimpin LAKI LAKI beragama islam. Hal ini jelas nilai positif, bayangkan kalo megawati maju lagi dan menjadi capres? Umat islam tidak membolehkan seorang perempuan menjadi pemimpin negara karena ada hadist dari rosulullah :“Tidak akan berbahagia / berjaya suatu kaum yang menyerahkan urusan mereka kepada wanita (mengangkat wanita sebagai pemimpin).”

Sisi negatif Pencapresan Jokowi
Dilihat dari kacamata islam, pencapresan jokowi juga punya sisi negatif. Yang paling nampak adalah diangkatnya wakil kepala daerah menjadi kepala daerah. Kebetulan baik di Solo atau dijakarta, Wakil kepala daerahnya non muslim, ini jelas merupakan kerugian bagi umat islam.  Contoh realnya adalah penempatan lurah susan oleh Ahok yang ditempatkan di mayoritas muslim. Hal ini sebenarnya tidak melanggar undang undang, namun jika si lurah menghilangkan aspek islam dalam pemerintahan dan kemasyarakatan seperti mengganti Assalamualaikum menjadi selamat pagi dan dijadikan aturan, jelas ini menjadi konflik. Penempatan lurah seperti itu juga dipandang kurang bijak.

Sisi kedua adalah mendomplengnya dedengkot syiah Kang jalal yang menjadi caleg DPR RI dari PDI-P. memang sih, Syiah ada dibeberapa partai, namun isu kang jalal ini menjadi lebih besar mana kala tokoh PDI mengatakan menginginkan kang jalal jadi Menteri agama. Apa jadinya negara dengan mayoritas sunni dipimpin oleh Seoran syiah? rusak sudah bukan? Ingin bukti? lihat Irak, Iran dan Suriah.

Usaha menjegal Jokowi 

Banyak yang bilang, jokowi sudah hampir pasti menang pilpres, bahkan sebagian sesumbar bahwa jokowi bisa menang satu putaran. Tapi ingatkah kita bahwa PDI-P di ahun 1999 juga menjadi pemenang pemilu Legislatif namun Megawati Gagal jadi presiden? Kala itu, poros tengah (partai islam) mengusung gusdur menjadi presiden. 

Untuk menjegal jokowi jadi presiden, salah satu cara adalah dengan koalisi partai islam atau koalisi Gerindra, Golkar dan Demokrat. Jika partai islam dan partai nasionalis berkoalisi maka kemungkinan besar jokowi kalah. Namun koalisi baik antar partai nasional maupun islam itu sangat sulit dilakukan mengingat masing masing ingin mencalonkan presidennya sendiri sendiri

Cara kedua adalah meminimalisir pemberitaan positif tentang jokowi, hal ini tentunya sudah dilakukan oleh partai partai yang punya media yang sudah mendeklarasikan capresnya. Contohnya adalah Golkar, Dahlan iskan dengan jaringan  jawaposnya serta WIN-HT dengan jaringan Medianya. 

Harapan jika jokowi menjadi presiden
Entah besok jokowi jadi presiden atau tidak, ada harapan yang besar dipundak jokowi. Harapan saya sendiri sebagai penulis adalah sebagai berikut:
  1. Tegas dan konsisten serta tidak menjadi boneka pihak pihak tertentu.
  2. Mengangkat menteri dari profesional dibidangnya, bukan politisi.
  3. Merangkul partai demokrat dengan tujuan agar rencana pembangunan yang sedang diproses seperti redenominasi atau pembangunan infrastruktur bisa berjalan mulus.
  4. Merangkul partai islam sehingga pihak pihak yang tidak sejalan dengan jokowi bisa diajak kerjasama, minimal mensupport pemerintahan yang terbentuk. 
  5. tidak banyak janji. 
Bagaimana jika Gagal menjadi presiden?
Saya tidak tahu, perkara ini cukup menjadi urusan Megawati dan Jokowi. Pihak luar tidak usah ikut campur.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Jangan lupa Komentar ya :)