Dampak Positif Rekonsiliasi Tokoh Nasional

Rekonsiliasi antara prabowo dan jokowi

Setelah 6 bulan kondisi politik ditanah air begitu gadung dan panas, akhirnya bulan ini susana mencair dengan adanya rekonsiliasi antar tokoh politik yang bersebrangan. Hal ini tentunya sangat positif dilihat dari segala sisi. Sebelum lebih jauh membahas rekonsiliasi, mari kita pahami artinya, rekonsiliasi adalah perbuatan memulihkan hubungan persahabatan pd keadaan semula; perbuatan menyelesaikan perbedaan. Siapapun yang memulai rekonsiliasi ini patut di apresiasi. 

Pihak pihak dari KMP ataupun KIH memang beberapa hari terakhir sering mengadakan silaturahmi untuk menurunkan panasnya suana politik di indonesia. Sebenarnya proses rekonsiliasi ini sudah berlangsung lama, misalkan dulu Pengurus PAN dan PPP hadir di acara PDIP pada bulan september 2014. Lalu belum lama ini Ketua parlemen dari DPRD, MPR dan DPD juga bertemu jokowi dan melakukan jumpa pers bersama, 

Baru hari ini, jokowi bertemu dengan Abu rizal bakrie selaku ketua Partai Golkar dan dilanjutkan dengan silaturahmi dengan Prabowo. Ini luar biasa bagi indonesia. Pertemuan tokoh nasional ini menunjukan sikap kenegaraan semua pihak. Selain itu, di level akar rumput pun, para pendukung prabowo dan jokowi menjadi lebih akur.

Disini, tidak ada lagi istilah menang kalah dalam pemilu karena kenyataannya semuanya menang dan semuanya kalah. Pihak Koalisi indonesia hebat menang di Eksekutif dan Koalisi indonesia hebat menang di Parlement. Hal ini tentunya sangat positif. Dengan pembagian tugas yang jelas, Jokowi tidak bisa mengontrol DPR dan DPR bisa membuat undang undang sebagai pedoman  eksekutif. Kondisi saling mengawasi ini tentunya akan bernilai positif jika benar benar dijalankan.

Masih ingatkah kenapa megawati bisa menjual aset penting negara di tahun 2003-2004? karena DPR di kuasai PDIP. Hal ini menyebabkan tidak ada kontrol terhadap eksekutif, yang terjadi justru Legislatif hanya menuruti pihak eksekutif. Penjualan indosat, UU outsourcing, penjualan kapal tangker, lepasnya sipadan ligitan dan penjualan gas Tangguh ke cina jelas merugikan indonesia sampai hari ini. Sekali lagi mari kita berpikir positif untuk hal ini.

Namun sangat disayangkan masih ada pihak yang belum rekonsiliasi hingga saat ini yaitu antara Pak SBY dengan megawati. SBY sudah berkali kali mengutarakan keinginannya untuk bertemu Mega, Sayang sifat Dendam megawati tidak hilang walaupun sudah 10 tahun. 

Semoga dalam pelantikan jokowi besok, Megawati bisa rekonsiliasi dengan SBY dan Indonesia makin adem, damai dan sejuk dalam tatanan bernegara. Amin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Jangan lupa Komentar ya :)