Peristiwa Jatuhnya Lion Air   penerbangan dari Jakarta Ke Tanjung Pinang dengan kode penerbangan 610  pada tanggal 29 Oktober 2018 menyisakan tandatanya dan kesedihan bukan hanya bagi keluarga korban, namun juga untuk dunia penerbangan di Indonesia. Investigasi terbaru menunjukan bahwa hasil analisa Blackbox menunjukan adanya kerusakan penunjuk kecepatan di dashboard Pilot yang menyebabkan sebelum jatuh, Ketinggian dan kecepatan Pesawat mengalami perbuahan drastis. Lebih lanjut saya sarankan membaca wikipedia yang sudah meringkas semua kejadian dari Jatuhnya Lion Air, tanggap Darurat, pencarian Korban sampai investigasi di https://en.wikipedia.org/wiki/Lion_Air_Flight_610

Apapun hasil akhir investigasi, saya sendiri berpendapat bahwa Lion Air Harus di audit total dan harus ada perubahan manajemen mendasar di Maskapai Singa. Berikut ini adalah masukan dan saran untuk Kemenhub dan Pihak Lion Air dari saya sendiri sebagai pelanggan Lion Air. 

Kurangi Frequensi Penerbangan Lion Air

Jika menganalisa kejadian diatas dan terbukti bahwa Penyebab jatuhnya lion AIr karena penunjuk kecepatan pesawat mengalami kerusakan, saya berasumsi bahwa waktu untuk teknisi mengecek seluruh bagian pesawat terbang kurang. Sebenarnya Pesawat Lion Air tidak banyak, namun pesawat di pakai untuk berbagai route dengan tujuan memaksimalkan penerbangan dan pendapatan tentunya. 

Saran saya sendiri, kurangi frequensi terbang untuk Lion, misal Penerbangan dari Padang ke Jakarta saja sampai 9x sehari. Jika penerbangan dikurangi maka Teknisi akan punya waktu lebih untuk memeriksa pesawat. Selain itu saya yakin Delay Lion Air juga akan berkurang. 

Namun demikian, Pengurangan Frequensi ini untuk penerbangan antar kota yang sampai diatas 5x sehari, sedangkan untuk penerbangan ke daerah daerah terpencil tetap dipertahankan. 

Naikan Tiket Pesawat Lion


Lion Air memang terkenal dengan Murahnya, setiap orang bisa terbang, namun tentunya tahu sendirilah, ada harga ada jasa. Karena murah, maka Pelayanan Lion seadanya, misal dari Waktu Delay yang sudah menjadi kebiasaan. Dengan menaikan tiket pesawat Lion 5%-10% maka saya yakin Lion Air akan lebih profesional dalam manajemen pesawatnya dan tentunya meningkatkan Kesejahteraan Karyawannya yang Konon Pilot Naas JT610 hanya bergaji 3.7 Juta. 

Audit Seluruh Pesawat 

Semua pesawat Lion Air seharusnya di diaudit oleh teknisi dari maskapai Lain atau dari Kemenhub. Kalau perlu datangkan Teknisi langsung dari Pembuat pesawat. Saya berharap Kemenhub membuat Peraturan Menteri yang mewajibkan Teknisi dari Pembuat Pesawat Minimal mengecek 2 kali dalam satu tahun yang berlaku untuk semua maskapai.

Laporan ini lalu dilaporkan secara terbuka di media masa sebagai bentuk transparansi publik untuk melihat kelayakan terbang pesawat, riwayat kerusakan dan UMUR dari pesawat. Keterbukaan informasi ini juga akan membuat calon penumpang lebih bijak dalam memilih maskapai saat traveling.

Selain itu, Kepemilikan pesawat harus diumumkan secara terbuka. JIka kita baca LionMag maka biasanya direktur dipembukaannya selalu membanggakan ekspansi jalur baru Lion Air atau kesuksesan Lion Air mendatangkan pesawat baru.

Bahasanya menarik memang dan terlihat jujur. Mendatangkan ini bisa saja ini Beli langsung dari perusahaan Airbus atau Boeing atau pesawat ini adalah Pesawat Sewa dari pihak ketiga. Ini juga harus di buka secara transaparant. Biasanya kalau pesawat Sewa, prinsipnya adalah kejar setoran untuk menutup sewa dan mengoptimalkan penggunaan pesawat. Dan saya khawatir pesawat yang jatuh itu adalah Pesawat sewa sehingga penggunaannya jor joran tanpa memperhatikan  kelayakan terbang pesawat.

Audit Keuangan dan SDM Teknis

Audit total harus dilakukan di perusahaan Singa merah ini. Pertama audit keuangan untuk memastikan bahwa keuangan perusahaan tidak bermasalah dan memastikan bahwa karyawan Lion mendapatkan gaji yang layak sesuai standar gaji pegawai Maskapai Penerbangan di Indonesia.

Dan yang terakhir adalah Audit SDM terutama SDM Teknis seperti Teknisi Pesawat dan Pilot. Untuk teknisi mungkin perlu di lakukan sertifikasi yang sertifikasi tersebut expire tiap sekian tahun sehingga SDM maskapai terus mendapatkan pelatihan dan kemampuan teknis baru.

Monitoring, Evaluasi dan Moratorium Pembukaan Jalur penerbangan Baru 

Dengan Kasus ini, saya berharap kemenhub bisa lebih teliti dalam memberikan ijin pembukaan jalur baru atau penambahan rute baru. Kalau perlu Justru Kemenhub memperketat Monev untuk semua Maskapai.  Bagi Maskapai yang sering Delay maka beri sangsi tegas misalkan dalam satu tahun penerbangan delay lebih dari 20% maka Jalur penerbangan tersebut dibekukan.

Pembukaan rute baru atau penambahan frequensi terbang juga sudah seharusnya diperketat dengan melihat jumlah pesawat dari Maskapai serta tingkat performa maskapai yang ada.

Saya yakin orang orang di kemenhub adalah orang orang yang ahli. Sekarang yang diperlukan adalah ketegasan pemerintah agar Maskapai tidak hanya fokus mengejar keuntungan, namun juga mengutamakan keselamatan.

Kritik dan Saran Untuk Kemenhub dan Lion Air


Peristiwa Jatuhnya Lion Air   penerbangan dari Jakarta Ke Tanjung Pinang dengan kode penerbangan 610  pada tanggal 29 Oktober 2018 menyisakan tandatanya dan kesedihan bukan hanya bagi keluarga korban, namun juga untuk dunia penerbangan di Indonesia. Investigasi terbaru menunjukan bahwa hasil analisa Blackbox menunjukan adanya kerusakan penunjuk kecepatan di dashboard Pilot yang menyebabkan sebelum jatuh, Ketinggian dan kecepatan Pesawat mengalami perbuahan drastis. Lebih lanjut saya sarankan membaca wikipedia yang sudah meringkas semua kejadian dari Jatuhnya Lion Air, tanggap Darurat, pencarian Korban sampai investigasi di https://en.wikipedia.org/wiki/Lion_Air_Flight_610

Apapun hasil akhir investigasi, saya sendiri berpendapat bahwa Lion Air Harus di audit total dan harus ada perubahan manajemen mendasar di Maskapai Singa. Berikut ini adalah masukan dan saran untuk Kemenhub dan Pihak Lion Air dari saya sendiri sebagai pelanggan Lion Air. 

Kurangi Frequensi Penerbangan Lion Air

Jika menganalisa kejadian diatas dan terbukti bahwa Penyebab jatuhnya lion AIr karena penunjuk kecepatan pesawat mengalami kerusakan, saya berasumsi bahwa waktu untuk teknisi mengecek seluruh bagian pesawat terbang kurang. Sebenarnya Pesawat Lion Air tidak banyak, namun pesawat di pakai untuk berbagai route dengan tujuan memaksimalkan penerbangan dan pendapatan tentunya. 

Saran saya sendiri, kurangi frequensi terbang untuk Lion, misal Penerbangan dari Padang ke Jakarta saja sampai 9x sehari. Jika penerbangan dikurangi maka Teknisi akan punya waktu lebih untuk memeriksa pesawat. Selain itu saya yakin Delay Lion Air juga akan berkurang. 

Namun demikian, Pengurangan Frequensi ini untuk penerbangan antar kota yang sampai diatas 5x sehari, sedangkan untuk penerbangan ke daerah daerah terpencil tetap dipertahankan. 

Naikan Tiket Pesawat Lion


Lion Air memang terkenal dengan Murahnya, setiap orang bisa terbang, namun tentunya tahu sendirilah, ada harga ada jasa. Karena murah, maka Pelayanan Lion seadanya, misal dari Waktu Delay yang sudah menjadi kebiasaan. Dengan menaikan tiket pesawat Lion 5%-10% maka saya yakin Lion Air akan lebih profesional dalam manajemen pesawatnya dan tentunya meningkatkan Kesejahteraan Karyawannya yang Konon Pilot Naas JT610 hanya bergaji 3.7 Juta. 

Audit Seluruh Pesawat 

Semua pesawat Lion Air seharusnya di diaudit oleh teknisi dari maskapai Lain atau dari Kemenhub. Kalau perlu datangkan Teknisi langsung dari Pembuat pesawat. Saya berharap Kemenhub membuat Peraturan Menteri yang mewajibkan Teknisi dari Pembuat Pesawat Minimal mengecek 2 kali dalam satu tahun yang berlaku untuk semua maskapai.

Laporan ini lalu dilaporkan secara terbuka di media masa sebagai bentuk transparansi publik untuk melihat kelayakan terbang pesawat, riwayat kerusakan dan UMUR dari pesawat. Keterbukaan informasi ini juga akan membuat calon penumpang lebih bijak dalam memilih maskapai saat traveling.

Selain itu, Kepemilikan pesawat harus diumumkan secara terbuka. JIka kita baca LionMag maka biasanya direktur dipembukaannya selalu membanggakan ekspansi jalur baru Lion Air atau kesuksesan Lion Air mendatangkan pesawat baru.

Bahasanya menarik memang dan terlihat jujur. Mendatangkan ini bisa saja ini Beli langsung dari perusahaan Airbus atau Boeing atau pesawat ini adalah Pesawat Sewa dari pihak ketiga. Ini juga harus di buka secara transaparant. Biasanya kalau pesawat Sewa, prinsipnya adalah kejar setoran untuk menutup sewa dan mengoptimalkan penggunaan pesawat. Dan saya khawatir pesawat yang jatuh itu adalah Pesawat sewa sehingga penggunaannya jor joran tanpa memperhatikan  kelayakan terbang pesawat.

Audit Keuangan dan SDM Teknis

Audit total harus dilakukan di perusahaan Singa merah ini. Pertama audit keuangan untuk memastikan bahwa keuangan perusahaan tidak bermasalah dan memastikan bahwa karyawan Lion mendapatkan gaji yang layak sesuai standar gaji pegawai Maskapai Penerbangan di Indonesia.

Dan yang terakhir adalah Audit SDM terutama SDM Teknis seperti Teknisi Pesawat dan Pilot. Untuk teknisi mungkin perlu di lakukan sertifikasi yang sertifikasi tersebut expire tiap sekian tahun sehingga SDM maskapai terus mendapatkan pelatihan dan kemampuan teknis baru.

Monitoring, Evaluasi dan Moratorium Pembukaan Jalur penerbangan Baru 

Dengan Kasus ini, saya berharap kemenhub bisa lebih teliti dalam memberikan ijin pembukaan jalur baru atau penambahan rute baru. Kalau perlu Justru Kemenhub memperketat Monev untuk semua Maskapai.  Bagi Maskapai yang sering Delay maka beri sangsi tegas misalkan dalam satu tahun penerbangan delay lebih dari 20% maka Jalur penerbangan tersebut dibekukan.

Pembukaan rute baru atau penambahan frequensi terbang juga sudah seharusnya diperketat dengan melihat jumlah pesawat dari Maskapai serta tingkat performa maskapai yang ada.

Saya yakin orang orang di kemenhub adalah orang orang yang ahli. Sekarang yang diperlukan adalah ketegasan pemerintah agar Maskapai tidak hanya fokus mengejar keuntungan, namun juga mengutamakan keselamatan.

3 komentar :

  1. Jujur saya sangat kececewa dengan layanan dan jadwal penerbangan nya di rubah2 sangat2 kecewa sampai2 saya menunggu 6 jam di bandara kecewa kecewa. Saya mintak tolong untuk jgn merubah2 waktu jadwal penerbangan seenak nya saja. Saya komentar kayag gini karna istri saya lagi sakit maka nya saya ambil alternatif agar supaya cepat tapi ternyata nol besar. Kecewa2 bener saya kalau ketemu sama atasan pihak lion air saya akan protes untuk mempertanggung jawabkan semua nya

    BalasHapus
  2. Saya sangat kecewaaaa denga n pesawat lion air!!!!! Dimana pesawat lion pada hari ini tanggal 25 april 2019 tujuan jakarta - pangkalpinang memmpercepat keberangkatan dari jam 15.50 ke jam 10 pagi . Sedangkan kedua orangtua saya dari jawa tengah ke jakarta bukan dengan waktu yang cepat dan membutuhkan waktu yang lama hampir 12-15 jam dan akhirnya mereka ketinggalan pesawat . Saya sangat sangat kecewa . Dengan pesawat lion air ini . Karena tidak memberitahukan keberangkatannya sehari atau 2hri sebelum keberangkatannya dipercepat . Tolongg ya fikirkan untuk sekali lagi . Coba seandainya kalian yg berada diposisi sebagai kedua orangtua saya . Yang tidak mengerti apa apa dikota besar harus bagaimanaa .. Jangan seenak kalian mengubah2 keberangkatan! Saya mohon pihak lion harap mengga ti keberangkatannya!!!

    BalasHapus
  3. Slmat pagi ,nma saya anggiawan,jujur saya merasa kecewa skli dgn harga tiket yg mlmbung tinggi, kita ini rakyat jelata,untuk mkn saja pas2an.bkrja merantau ke luar pulang. Mohon d bayangkan dan d resapi,jika anda d posisi kami..mhon dgn sangat netralkan atau normalkan hrga pesawat.. terima ksh

    BalasHapus